Example floating
Example floating
Sorot

Toleransi Holistik tidak Pudar, Rudy: Swadaya Bangun Jalan Beton, Sofyan: 31 Meter, Irbar: Terpelihara 

9
×

Toleransi Holistik tidak Pudar, Rudy: Swadaya Bangun Jalan Beton, Sofyan: 31 Meter, Irbar: Terpelihara 

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

47NEWS. ID – TANA TORAJA. Warga di lingkungan Bone, Kelurahan Lemo, Kecamatan Makale Utara, Kabupaten Tana Toraja, membuktikan bahwa toleransi holistik dengan semangat gotong royong belum pudar.

Toleransi Holistik, merupakan pendekatan komprehensif yang menghargai perbedaan (suku, agama, budaya) secara menyeluruh melibatkan pikiran, perasaan, dan tindakan nyata.

Example 300x600

Penggagas Toleransi Holistik, Ir. Irbar Pairing Senobua, M.T, mengatakan, bahwa Toleransi Holistik merupakan salah satu langkah cepat menuju “INDONESIA UNGGUL” menciptakan keserasian yang merupakan unsur pendukung dalam menghasilkan keterpaduan yang utuh.

“Selain itu, penghargaan dalam perbedaan adalah suatu masalah dalam sudut pandang. Perbedaan yang ada bukan masalah salah atau benar,” ujar Irbar Pairing Senobua, kepada media ini. Sabtu, 11 April 2026.

Sementara itu, suasana gotong royong dan swadaya membangun jalan sepanjang 31 meter di Kelurahan Lemo, Kecamatan Makale Utara, Kabupaten Tana Toraja, membuktikan bahwa Toleransi Holistik itu tidak pudar. Jalanan yang rusak dan sepertinya memang luput dari perhatian Pemerintah Kabupaten Tana Toraja disulap jadi jalan beton yang mulus.

Rudy Rante, Ketua panitia pembangunan infrastruktur jalan, mengungkapkan, bahwa jalan yang selama ini sebagai akses vital ke sejumlah obyek wisata dari Lemo diakui masyarakat sering memakan korban.

“Di wilayah ini kerap terjadi kecelakaan lakalantas (lalu lintas), ada yang jatuh dari motornya, kendaraan yang bersenggolan saat menuju objek wisata, hingga lumpur kala hujan turun,” ungkap Rudy.

Rante, menjelaskan, bahwa pembangunan infrastruktur jalan beton K.250, 31 Meter secara Swadaya ini, tidak terlepas dari penggagas Toleransi Holistik, Irbar Pairing.

“Kami syukuri, karena dia dorong kami. Puji Tuhan dan singkat cerita. Dikerjakanlah. Dan hanya dua hari selesai. Ibu ibu, bapak, dan anak anak semua kompak turun,” jelasnya.

Disebutkannya bahwa Irbar Pairing Senobua’ yang juga sebagai Ketua Pengurus Wilayah PMTI Kalimatan Tengah, saat datang ke Toraja, mengajak diskusi kecil-kecilan dengan tiga orang.

“Dari hasil diskusi itulah, kami menyepakati membentuk panitia kecil sebagai pelaksana lapangan. Disepakati nama Rury Rante sebagai ketua pembangunan, Sofyan Bua Tasik sebagai bendahara, dan bagian teknis Pong Kojek dan Pelik,” cetusnya.

Jalanan yang dibeton dengan swadaya masyarakat dan bantuan dari luar kampung dan masyarakat perantau Bone Lemo berhasil merampungkan 31 meter lebih.

“Dengan lebar jalan bervariasi. Ada yang 7 meter, 6 meter dan 9 meter. Yang dikerja mulai star dari masuk obyek wisata dari jalan poros,” ungkapnya.

Ketika ide ini pertama kali muncul, langsung direspon, karena memang sejalan dengan pemikiran warga dengan melihat banyak warga yang sering tergelincir naik motor.

“Pak Irbar bilang bagaimana kalau kamu swadaya itu…!! Kemudian dijawab Rury, “Iya kak siap. Ndak apa-apa swadaya” setelah itu, ia kemudian mengirim ide tersebut masuk group WA,” jelasnya.

Berikut pesan yang disampaikan ke group WA warga. Halo semua saudara-saudari sekalian. Segala puji bagi Tuhan Yesus Kristus, telah memberikan kesempatan dan kemampuan bagi kita untuk bisa berpartisipasi dalam pembangunan jalan yang menghubungkan objek wisata Lemo.

Jalan yang akan diperbaiki ini tidak hanya bermanfaat bagi para pengunjung wisata, namun juga menjadi akses utama bagi masyarakat yang tinggal di lingkungan Bo’ne, Rorre, Sarira, serta sebagai jalur menuju Gereja Toraja Jemaat Golgota Lemo.

Semoga kontribusi kita semua dapat membawa berkah, kemudahan, dan kebaikan bagi seluruh masyarakat serta para pengunjung. Kemudian panitia juga lampirkan daftar kasiturusan yang sudah diperiksa dan dihitung ulang dengan akurat.

Dan bagi saudara/i yang belum menyelesaikan kontribusinya, kami mengharapkan dukungannya secepatnya, agar perbaikan jalan dapat segera diselesaikan. Mohon maaf jika ada kekurangan dan atas perhatian serta kerja samanya, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Secara terpisah, bendahara panitia pembangunan infrastruktur jalan, Sofyan Bua Tasik, mengungkapkan, bahwa rencana ke depan untuk buat laporan, karena sudah rampung semua. Kemudian diserahkan ke yayasan untuk pembayaran. Dan, kemudian laporkan ke group WA.

“Sekarang ini, saldo sisa masih sekitar 9 jutaan. Dana sisa ini, sesuai masukkan, kita akan lanjutkan bangun sampai ke gereja. Ada juga usulan masyarakat, sisa dana bisa buat dasar dasar jalan. Cuman ada usulan harus totalitas lagi,” ungkap Sofyan Bua Tasik.

Kembali ditegaskannya, bahwaide ini, pertama dari Irbar Pairing Senobua.

“Pak Irbar datang ke Toraja, kemudian kami bertiga diajak diskusi dan langsung bentuk panitia kecil. Sehingga jadilah 31 meter lebih. Lebar jalan 7 meter dan ada juga 6 meter dan 9 meter,” tegasnya.

Rudy Rante, kepala lingkungan dan ketua panitia, kembali mengemukakan bahwa respon masyarakat sangat luar biasa atas ide tersebut. Sangat luar biasa jalan kita seperti ini.

“Titik yang dikerjakan paling parah dan sering orang jatuh. Bahkan dari luar kampung. Menyumbang. Dan, orang yang melalui jalan ini turun swadaya. Swadaya ini sangat membantu, karena kalau menunggu pemerintah, kapan daerah kita bagus. Sangat setuju dengan ide Pak Irbar,” ungkap Rudy Rante.

Selain infrastruktur jalan yang menjadi sorotan, masyarakat setempat juga prihatin melihat rumah adat toraja yang di objek yang sudah dimasukan jadi cagar budaya. Prihatin sudah rusak berat dan kurang perhatian dari pemerintah Tana Toraja.

“Ini juga perlu perhatian untuk perbaikan dari pemerintah daerah Tanah Toraja, dinas Pariwisata dan Pemerintah Pusat, Kementerian Pariwisata,” pungkasnya.

Penggagas Toleransi Holistik, Irbar Pairing Senobua, di akhir pernyataannya, perlu kita ketahui bersama, bahwa masih ada sifat gotong royong swadaya masyarakat yang terpelihara di Tana Toraja. Semoga cara-cara gotong royong tetap terpelihara di masyarakat.

“Karena pemerintah tana toraja sudah lama tidak ada perhatian terhadap jalan yang rusak di lingkungan Wisata Lemo. Semoga gotong royong, tetap terpelihara di masyarakat. Terima kasih Pak Rudy Rante, Sofyan Bua Tasik, Pong Kojek, Pong Pelix serta masyarakat lainnya yang turun swadaya,” jelas Irbar Pairing Senobua.

Dan di tengah arus era globalisasi yang kerap mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih individualistis, semangat kebersamaan justru tetap menyala di Lingkungan Bone, Kelurahan Lemo, Kecamatan Makale Utara, Kabupaten Tana Toraja. Warga setempat membuktikan bahwa toleransi holistik dengan semangat gotong royong belum pudar.

47News. By

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *