Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Sorot

Pemuda di Desa Mappedeceng Nyatakan Sikap, Rifki: Harga Mati, Praktisi Hukum: Dua Point Utama

30
×

Pemuda di Desa Mappedeceng Nyatakan Sikap, Rifki: Harga Mati, Praktisi Hukum: Dua Point Utama

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

47NEWS.ID. LUWU UTARA – Arus dukungan terhadap pembentukan Provinsi Luwu Raya kembali menguat dari akar rumput. Kali ini, sejumlah pemuda di Desa Mappedeceng, Kabupaten Luwu Utara, secara terbuka menyatakan sikap mendukung penuh pemekaran Provinsi Luwu Raya.

Salah satu tokoh pemuda Mappedeceng, Rifki, menegaskan, bahwa aspirasinya bukan sekadar keinginan sesaat, melainkan kebutuhan mendesak demi masa depan generasi mendatang. Identitas dan kemandirian Luwu Raya adalah hal yang tidak bisa dinegosiasikan lagi.

Example 300x600

“Bagi kami, pembentukan Provinsi Luwu Raya adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ini tentang harkat, martabat, dan masa depan tanah kelahiran kami,” ujar Rifki dalam keterangannya. Rabu, 28 Januari 2026.

Senada dengan hal tersebut, praktisi hukum dan advokat, M. Akbar, memberikan penguatan dari sudut pandang yuridis dan tata kelola wilayah. Dia menilai, bahwa luasnya wilayah Luwu Raya saat ini membuat rentang kendali koordinasi dengan pemerintah provinsi di Makassar menjadi terlalu jauh.

“Sehingga menghambat percepatan pembangunan,” cetusnya.

Kemudian, M. Akbar, mengungkapkan, ada dua poin utama, mengapa pemekaran tersebut sangat krusial, yang pertama, mempermudah pelayanan publik, yang kedua, agar Tana Luwu mengelola kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) secara mandiri.

“Dua poin utama, pertama, aksesibilitas, untuk mempermudah pelayanan publik, agar masyarakat tidak perlu menempuh jarak ratusan kilometer untuk urusan administratif di tingkat provinsi, kemudian yang kedua, kemandirian ekonomi, agar Tana Luwu mengelola Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) secara mandiri agar lebih optimal untuk kesejahteraan rakyatnya,” ungkapnya.

Perjuangan ini sejalan dengan filosofi leluhur Tana Luwu dengan slogan “Wanua Mappatuo Na Ewai Alena” (negeri yang menghidupi dan mampu berdiri di atas kaki sendiri). Menjadi landasan moral, bahwa Luwu Raya sudah sangat layak untuk mengurus rumah tangganya sendiri.

“Dengan potensi SDA yang melimpah, mulai dari sektor pertambangan, pertanian, hingga kelautan, sudah saatnya kita mengelola kekayaan ini dengan semangat kemandirian sesuai slogan kita,” pungkas Akbar.

Perlu diketahui, bahwa dukungan dari pemuda Mappedeceng ini, diharapkan mampu memicu gelombang dukungan serupa di wilayah-wilayah lain di Luwu Raya, agar perjuangan pemekaran ini, segera membuahkan hasil nyata di tingkat pusat.

47News. By

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *